video wawancara dengan mas Nano Riantiarno

Advertisements

THE LEGEND OF THEATRE – NANO RIANTIARNO

HASIL WAWANCARA

Q       :  Bagaimana pemahaman arti ide menurut anda ?

A         : Menurut saya menjadi sebuah dasar untuk kita mulai mengekspresikan, sebelum kita mulai paling tidak kita harus tahu dulu konsep dasar yaitu ide,misalnya ada bagan itu direalisasikan, simulasi lapangan dengan siapa kita bekerja, perencanaa apa yang kita inginkan menjadi prima, tidak hanya di teater saja, semua wujud berangkat dari IDE. Ide biasanya dipacu oleh impian, sebuah visi. Negara yang memberikan ruang-ruang bagi orang yang bermimpi.

Q         : Bagaimana Pemahaman Arti konsep menurut anda ?

A         : Membuat sebuah wujud dari sebuah konsep, dari sesuatu yang tidak ada kemudian menyerapnya lewat  energi kita menjadi sesuatu yang ada, tidak bisa di sentuh , kemudian kita membuat konsepnya. Dari situ mengalir, ada kerangka, bahan, ada simulasi, ada rencana, dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada tetapi tidak dapat disentuh.  Direncanakan menjadi sesuatu kemudian dilengkapi oleh orang-orang lain yang ikut andil untuk  melengkapi ide dan konsep.  Dan kemudian menjadi wujud yang bisa dinikmati dan di sentuh. Ide dan konsep saling berhubungan.

Q         : Bagaimana cara dan strategi anda untuk mewujudkan ide dan konsep di dalam setiap karya-karya anda ?

A         : Selalu terjadi benturan, ada yang terjadi ketika kita menyerap masukan, merupakan modal kita lewat latar belakang pendidikan, etnik, budaya, pengalaman dan macam-macam. Ketika masuk kedalam diri kita, itu akan terjadi konflik. Sebagai sebuah penyaringan, layak tidak sih ini dijadikan sebuah ide atau sebagai konsep. Pergolakan itu terjadi didalam diri kita sebelum masuk kedalam yang lebih makro, berwujud. Benturan tersebut banyak, bisa benturan politik,sosiologis, pengadaan (sesuatu yang sifatnya kemampuan kita yang dikasi orang agar mensupport baik kemampuan moril atau non moril). SDM juga termasuk, kemampuan mereka di uji untuk mewujudkan yang kita ingin, kita harus memilih. Pikiran-pikiran juga dikembangkan agar mempunyai pengetahuan lain, pengalaman, pembelajaran untuk melengkapi dirinya. Hal itu harus dilakukan ketika penyediaan SDM tidak mencukupi. Selanjutnya adalah tempat mampu mengakomodir, harus sesuai. Apabila semua kendala-kendala tersebut dapat ditanggulangi, maka akan terjadi wujud yang merupakan hasil ekspresif. Jadi ngakalinya tidak bisa disimpulkan dalam I atau 2 kalimat saja.

Q        : Bagaimana ukuran suatu ide dan konsep dianggap bernilai dilihat dari idealisme dan Bisnis ?

A         : Sejak zaman dahulu selalu terjadi kontroversi dalam tanda kutip “seni”. Tetapi selalu ada orang-orang yang bisa mengalihkan. Bahwa gerbong kreativitas selalu berjalan diatas 2 rel . yang satu seni yang satu lagi estetika dan bisnis. Misalnya salah satu yang cabut akan jomplang. Apabila ada yang bisa menerapkan hubungan antara kedua dari yang kontrotratif menjadi sesuatu yang harmonis. Di Indonesia dari tahun 1985 harmonis sekali. Tidak ada suatu perbedaan/opini yang ini seni yang satu lagi dagang. Semua bergantung. Di Broadwad pada saat itu terjadi sampai sekarang. Broadwad melahirkan produk-produk yang estetikanya luar biasa tetapi laris, sama seperti film Hollywood, secara estetik layak, penonton suka, bisnisnya di perhitungkan. Sesudah zaman jepang selesai, masa revolusi. Baru orang berbicara seniman harus mengurus seni aja. Tidak boleh mengurus manajemen dan marketing. Saya belajar di Teguh Karya bahwa manajemen itu penting. Mengacu kepada seni pertunjukan sebelum zaman jepang. Ketika saya berbicara tentang manajemen, banyak dimaki-maki orang dan seniman, mengapa seniman mengurus dagang, tetapi apa sekarang orang bicara masalah manajemen. Manajemen sangat digemari di pasca sarjana. Itu merupakan bagian dianggap., tetapi yang paling terpenting apa yang di ekspresikan senimannya itu merupakan sumber inti kehidupan. Ketika kita mengkomunikasikan dari apa yang kita ekpresikan pasti ada biayanya. Manajemen harus mendukung apa yang kita ekspresikan.

Q         : Bagaimana pendapat anda tentang dunia ide dalam industry kreatif (dunia penciptaan ) di Indonesia ?

A         : industri kreatif kita sudah berlangsung lama, ketika krisis moneter, banyak orang yang tidak terima dari dampak peristiwa, tetap mereka bisa kreatif melakukan sesuatu. Pertunjukan yang jumlahnya Milyar ya sudah dijalankan saja sampai berapa lama, apakah akan menjadi sebuah trend, Inspirasi atau hanya mentok 3 tahun atau beberapa tahun lagi faktor karena mentok. Jangan sampai nantinya pemerintah merasa bahwa maraknya seni pertunjukan itu ditandai sebagai industri kreatif, dari dulu sudah juga ada dan sudah terjadi.

Q         : Kapan pertama kalinya anda terjun di dunia teater ?

A         : Pertama kali masuk dunia teater pada waktu SMA diajak seorang temen ada lakon tahun 65-an, ditulis dan disutradarai oleh seniman dari bandung yang tinggal di Cirebon. Saya trelibat di dalamnya mulai dari nol. Peran yang saya maenkan pada saat itu hanya seorang prajurit, pake tombak berdiri dua jam. Kelompok kami mementaskan dua lakon, pada waktu itu saya menjadi bangsawan, dialog lumayan banyak, saya termasuk orang yang tidak puas, maka semua dialog saya hafal. Ada satu peran utama, penyair, 10 hari sebelum pementasan pemeran utamanya sakit, saya disuruh sutradara menggantikan dia, dalam 10 hari di latih, dipentaskan 2 malam. Saya merasa dunia teater dunia saya, kemudian saya mulai mendalami, dimana saya harus kuliah supaya pengetahuan teater saya kuasai. Pada waktu itu ATNI baru di buka kembali. Tahun 87 saya ke Jakarta lulus SMA hanya berbekal 3 helai pakaian. Salah seorang guru Teguh Karya mengadakan acting cost, memilih dari murid-murid dan saya terpilih. Yang terpilih itu merupakan anggota pertama tahun 68 teater populer dan saya salah satu pendirinya. Latihan teater populer hampir satu setengah tahun latihan basic saja tidak tahu kapan mentasnya dan kita tidak berani nanya kepada teguh karya kapan mentasnya. Latihan dari jam 10 sampai jam 4 jam 5 kuliah. Hampir dua tahun mulai pementasan, pada waktu itu pementasan gila-gilaan, 2 tahun 1 bulan sekali, kami masing-masing jadi peran utama. Tapi cuma I malam pementasannya. Sesudah itu mulai berkurang selama 6 bulan atau 3 bulan sekali, pak teguh sudah aktif di film. Arifin C noer juga mulai aktif menulis skenario dan menyutradarai, Rendra lagi di tahan karena kegiatan politiknya mulai tidak berperan bagi pemerintah.Saya ke Jakarta tidak berkeinginan menjadi orang film. Saya hanya berkeinginan menjadi orang teater. Sesudah tahun 74-75 saya pamit kepada pak teguh untuk belajar teater dan pulang mendirikan teater koma pada tahun 1977. Pendiri utama hanya 3 orang, saya, Ratna Riantiarno dan Syaiful Anwar.

Q         : Apakah ada perbedaan penulisan naskah teater dengan penulisan naskah film ?

A         : Perbedaan hanya di medianya saja,Menulis naskah teater tidak main-main, harus tahu dimana dimungkinkan untuk dimainkan. Harus tahu struktur lakon, mempelajari ekonomi. Tidak seharusnya mengucapkan sesuatu secara bertele-tele. Seperti sutradara-sutradara Hollywood, mereka selalu bilang adegan ini akan saya lakukan dalam 4 shoot. Menulis naskah sandiwara susahnya bukan main, tetapi kalau sudah di terbitkan, susah lakunya, sering kali tidak di hargai sebagai sastrawan, padahal didalam naskah sandiwara tertampung semuanya dari puisi, prosa, lirik. Kalau ada orang yang ingin menulis drama saya bilang “pikir seribu kali”. Menulis skenario juga sama harus tahu aturannya, ada size/ukuran untuk kepentingan apa,paling tidak diwujudkan sebagai inspirasi untuk sutradaranya. Asrul Sani luar biasa sekali bagus menulisnya, dia menjelaskan segala macam tidak ada patokan dan harus ditulis ulang dalam breakdown dalam ukuran kamera. Suman jaya penulis naskah film juga, bagus tapi kalau dibaca begitu saja tidak enak. menulis skenario dan teater  keduanya memilki kkhususan yang tidak main-main, harus dipelajari, tidak semua orang bisa menulis naskah, menyutradarai drama, yang penting kita punya uang untuk menulis.

Q         : Apa ciri khas dari penulisan karya-karya anda ?

A         : Saya berbicara kemanusiaan, memotret keadaan, potret kalau tidak direkayasa kan jujur. Saya menulis apa yang saya rasa patut di tulis dan saya tidak pernah berpikir itu bentuknya tragedi, komedi. Saya menulis saja orang lain yang menilai tulisan itu. Ketika saya menulis. Bahan itu adalah bahan yang belum jadi, sebuah naskah drama ketika belum dipentaskan, naskah tersebut belum di uji. Ada naskah drama yang tidak bisa dipentaskan seperti naskah-naskah angkatan pujangga baru. Di Roma pada abad ke 5 dan 6 ada seorang politikus sangat berpengaruh pada perkembangan drama di romawi, dia menulis naskah drama ada 6 tidak pernah dipentaskan. Sejak itu orang menyebutnya naskah drama yang tidak dipentaskan sebagai  “Toilet Drama” . istilah tersebut juga cocok untuk naskah yang tidak bisa mungkin digunakan karena terlalu banyak kata-kata.

Q         : Bagaimana anda cara membagi waktu sebagai sutradara, menulis naskah dan menjadi aktor agar ketiganya berjalan seiringan ?

 A        : Ini merupakan jalan hidup yang tidak dilacak dari awal karena saya masuk ke teater sebagai pemain . Saya belajar di ATNI major saya sebagai penyutradaraan. Saya mulai belajar menulis pada tahun 67, tidak saya pentaskan tetapi dipentaskan oleh teater Jakarta, salah satu pemainnya adalah Dedi Mizwar. Itu merupakan naskah remaja yang saya buat. Ketika saya di teater populer saya mencoba menulis dan diterima oleh pak Teguh dan dipentaskan untuk tv beberapa kali, dan saya ditawari pak teguh untuk menyutradarai, naskah drama yang saya sutradarai adalah pinangan dari Chekov. Pemainnya Slamet Rahardjo, Hengki Sulaiman dan Dewi Savitri. Setelah saya mendirikan Teater Koma, saya mulai menulis dan menyutradarai, saya merasa yang bisa memerankan peran ini adalah saya, ketika itu masih sedikit anggota. Pada waktu awal saya yang maen, mengawasi,sambil bikin set berjalan dengan baik, kemudian anggota berdatangan pada tahun 80an. Balance/seiringan itu bisa ditemukan harus sehat luar dalam .

Q         :  Apakah ada kesulitan atau hambatan ketika menulis karya-karya?

A         : Saya termasuk orang yang mempersiapkan segala sesuatunya, sebelum melakukan sesuatu, termasuk menulis. Dan saya selalu mencatat apa yang saya lakukan di dalam notes kecil, segala perasaan yang sedang saya rasakan saya selalu tulis di dalam notes. Ketika saya ingin menulis sesuatu, saya survey, membaca buku yang berhubungan dengan apa yang saya ingin tulis, atau pergi ke tempat dimana lokasi  yang tidak imajinatif,kecium udaranya, kalau sudah lengkap,dulu saya sebelum menulis saya membuat kerangka, ada plot, sinopsis, tiap adegan sudah saya tulis. Sepuluh tahun yang lalu saya tidak melakukan lagi, survey masih saya lakukan, membaca, bertanya, mengalami. Sesudah lengkap saya duduk depan computer. Kalau kau sudah bisa menulis lebih dari 12 halaman. Maka berikutnya akan memandu. Saya tidak tahu ketika sudah depan komputer, saya mau menulis apa, biasanya saya membaca dari awal. Ketika itu ada proses editing, ada penambahan dan pengurangan dan melanjutkan. Saya percaya kalimat-kalimat yang saya tulis pasti akan memandu saya sampai menuju akhir.pernah saya menulis tidak lebih dari dua minggu.saya pernah menulis novel tahun 72 Diterbitkan tahun 2003. Jadi 21 tahun saya menulis  kemudian baru diterbitkan.

Q         : Apakah ada prinsip ketika kita sedang menulis film dan drama ?

A         : Pengetahuan media harus kita kuasai, untuk film ada aturan-aturannya, penjelasan yang berhubungan kenapa perlu seperti ini juga ada panduannya. Kalau kita menulis naskah drama harus tahu 3 hal yaitu pekerja, tempat, penonton.Ketiga hal ini kita harus kuasai sebagai pengetahuan umum. Pekerja itu harus mempelajari tentang penyutradaraan, artistik, pendayaan, seni peran, secara umum kita mengetahui supaya tidak di bohongi. Tempat kita harus tahu ada berapa jenis tempat gedung pementasan kemudian penonton, paling tidak kita harus tahu psikologi massa secara umum tidak harus menjadi ahli. Bicara tentang audience disini ada history,psikologi, geografi, sosiologi dan antropologi. Menulis film juga sama, kalau tidak, kita akan memperoleh modal dari mana. Ketika kita punya modal cukup kekayaaan imajimatif akan membara kemana-mana, ketika modal tidak cukup kita menulis itu-itu saja. Sama seperti ketika kita masuk dalam dunia ekspresif, kita tidak bisa berhenti belajar, tidak bisa berkata “ah kita sudah cukup” itu tidak bisa, pasti besok ada hal lain kita kan tidak akan tahu apa yang terjadi,belajar tidak habis-habis. Kita harus banyak mendengar, mengalami, melihat apa yang terjadi didalam diri kita yang semua tidak tahu merupakan kekayaan yang luar biasa. Saya selalu melamun, karena melamun mahal banget di jakarta karena waktu, kita harus membiasakan karena apa yang kita lamunkan  itu bisa menjadi modal untuk energi kreatif, jangan berlarut-larut kita jadi gila,ada sesuatu yang kita rencanakan, sesuatu itu tidak bisa spontanitas. Kalau kita merencanakan secara matang selalu ada ruang-ruang untuk spontanitas dan imajinatif, jangan mengira ini ketat banget itu pun masih ada apalagi tidak  direncanakan, semuanya ngawur.

Q         : Menurut anda bagaimana perkembangan teater dan film pada saat ini ?

A         : Film di Indonesia positif, film-film horor merajai, saya dengar pada waktu Festival film kans, film horror dibeli jerman dan katanya laku. Misalnya kita membicakan film horor vampire, film vampire bagus banget, film ini bukan sekedar film drakula biasa, mengandung banyak hal yang menjadi inspirasi kita.Film horor ini dikemas secara bagus dengan modal yang kuat. Film Indonesia maju, jangan lagi dirusak seperti tahuan 70an, film kacangan berapa banyak. 200 film produksi yang ada pada saat itu, 25 film yang bagus sudah cukup. Mengacu pada perkembangan film india semua kalangan diisi dari elite sampai kalangan bawah ada filmnya itu yang ideal. Sehingga sampai 1 tahun 2000 film. Misalnya kita orang menonton film di Bombay, ada adegan menari dan menyanyi penonton ikut terbawa adegan menari dan menyanyi, semua kalangan ada dari menengah atas sampai bawah ada. Saya pikir pola seperti itu harus di ikuti oleh perfilman nasional. Untuk teater, saya baru mengedit database dari yayasan kelola,  ada 34 kelompok teater di Indonesia,yang sudah launcing dari yayasan kelola, saya berharap bertambah, ada bandung, solo, Jakarta, Yogyakarta, padang, menurut data yang saya peroleh kota yang tidak ada seperti Palembang, Riau,  medan, makasar, manado, bali tetapi dulu kota tersebut bunyi, saya tidak percaya tidak mungkin tidak ada pasti ada. Sama halnya dengan perkembangan teater di Eropa, bahwa teater kontemporer yang merupakan teater ekprimentasi yang penyampaiannya lewat tubuh, penyampaiannya lewat kata. Hal ini sudah menyusut di Eropa, sekarang kembali lagi ke naskah. Penggerak teater di amerika sekarang mengajar sejarah teater amerika, didalam revolusi teater pada tahun 60-70an terhitung kemapaman teater pada saat itu. Di Indonesia sudah masuk kedalam kata lagi, ini harus di amati, saya melihat dinamika itu sebagai sesuatu yang positif. Keduanya positif, film jelas perkembangannya, di teater masih merupakan dinamika yang masih mengacu pada sesuatu yang harus dialami oleh para teater yang muda, jangan sampai yang ada beranggapan menulis teater mudah wah itu celaka sekali,itu merupakan ilmu khusus tidak semua orang bisa mengkritik tentang teater.

Q         :  Apa yang menjadi ciri khas anda menjadi seorang sutradara dan hal tersebut sudah melekat di diri anda ?

A         : Secara sederhana kita kembali pada watak masyarakat kita, yaitu masyarakat yang menari, sedih pun di tarikan. Masayarakat kita juga masyarakat yang bernyanyi, menari dan bermusik, sehingga saya hanya mengambil tradisi masyarakat tersebut. Dan gurauan secara spontan juga ciri masyarakat kita. Sehingga saya menjadi sutradara teater koma adalah teater yang bemusik, bernyanyi, menari dan bergurau, disampaikan apa adanya, dan semuanya bersumber dari masyarakat.

Q         : Bagaimana tips menulis drama yang akan dipentaskan agar tidak membosankan ?

A         : Sederhana saja, kau mengakhiri sebuah adegan kita harus membuat penonton penasaran/ ada rasa ingin tahu, penutup adegan adalah pembuka adegan, apabila kita mengakhiri sebuah adegan jangan ditutup secara tuntas, tetap saja dikasi pertanyaan untuk selanjutnya menonton penonton kembali.

Q         : Bagaimana cara membangkitkan semangat kembali ketika kita sudah mulai bosan menulis ?

A         : Kalau kita butuh menulis ya kita menulis. Menulis sudah menjadi kebutuhan saya, seperti kita makan, kalau lapar ya kita makan. Menulis seperti itu juga, dan sudah menjadi sesuatu yang melekat di diri saya. Ya kalau bosan berhenti dulu menulis . Ketika sudah semangat lagi lanjutkan menulis anda. Saya menulis menjadi sebuah kebutuhan dan pekerjaan bukan Hobi, seperti pramodya ananta noer menulis juga menjadi sebuah pekerjaan, apa saja bisa dia tulis. Jangan dipikirkan pasti semua itu akan berguna akan menjadi sebuah “file” seperti di komputer.

Q         : Kapan anda juga terjun atau aktif di dunia Jurnalistik ?

A         : Saya pulang dari Amerika tahun 79, saya belum ada pekerjaan,pada saat itu saya di ajak mas Putu Wijaya, “saya mau bikin majalah no, mau ikut?”. Saya bilang mau, saya bergabung. Majalah zaman mati, mas Putu ke amerika saya yang meneruskan, mati 1 tahun,setelah itu menyiapkan majalah Jakarta sampai 79-2001. Saya bekerja teman-teman beranggapan bahwa saya bekerja hanya sebentar saja tetapi hal itu salah ternyata saya bisa. Saya bekerja dari jam 9- jam 5 setelah itu latihan. Teakhir jadi Pemred, uang saya peroleh dari bidang ini. Luar biasanya keluarga majalah  tempo itu, meng izinkan pegawai-pegawainya tetap kreatif, putu masih memiliki teater mandiri dan saya teater koma. Pernah saya bikin film 3 bulan, saya cuti dan bilang tidak usa di gaji, tetapi tetap digaji, meskipun begitu saya tetap mengontrol pekerjaan saya.saya bekerja dari 79 sampai 85, kemudian 86-91 saya minta pensiun. 32 tahun saya bekerja sebagai seorang wartawan

Q         : Lebih sulit mana menjadi seorang Penulis Naskah, Aktor atau menjadi Sutradara ?

A         : Kalau kita melakukan dengan sungguh-sungguh dan datangnya dari cinta, maka semua pekerjaan itu sama sulitnya juga sama mudahnya. Dalam pengertian masing-masing memiliki spesifikasi suatu yang khusus baik menjadi aktor, menulis maupun menyutradarai. Hal itu dibilang mudah juga tidak, dibilang susah juga tidak. Tetapi kalau dasarnya cinta dan sungguh-sungguh maka yang berat pun menjadi enteng, bermain tugas utamanya apa? Memainkan suatu peran harus menyakinkan, modalnya kita harus membaca, latihan, menghafal dan mengalami. Menulis naskah sama saja. Menyutradarai lebih-lebih sulit lagi, membuat teater lebih rumit dari membuat Negara. Karena semua harus diperhitungkan. Menurut saya masing-masing pekerjaan itu sesuatu yang khusus, sama beratnya dan sama ringannya.

KESIMPULAN

Setelah melakukan wawancara dengan seorang legend banyak sekali pengalaman dan apa-apa yang belum saya ketahui menjadi tahu. Kata mas nano untuk menjadi seseorang yang sukses harus CINTA kepada pekerjaan. Kalau cinta pada pekerjaannya pasti orang tersebut melakukan pekerjaan dengan ikhlas dan tidak mengenal kata lelah. Kesungguhan hati juga perlu, karena disini diuji intensitas kita bekerja sampai sejauh mana melakukannya. Baik kita mau menjadi sutradara, penulis naskah. Semua pekerjaan ada sulit dan ada mudahnya, bagaimana kita bisa menghadapi pekerjaaan itu dengan ikhlas dan terus berkarya. Kreativitas tanpa batas.

Mas Nano Riantiarno ini benar-benar Legend yang patut untuk di acungkan jempol, karyanya yang sangat banyak dan berbagai penghargaan yang sudah mas nano raih, saya menyayangkan sekali generasi muda sekarang malah ada yang belum kenal seorang legend teater bernama Nano Riantiarno, mungkin kalau saya tidak ikut teater kampus saya pun juga tidak tahu siapa mas Nano itu. Alhamdulilah saya beruntung sekali bisa mewawancarai mas Nano dan bisa ada kesempatan untuk mengenal bagaimana mas Nano menjadi seorang aktor, penulis naskah dan sutradara dengan berbagai pengalaman yang sudah mas nano lalui.

Terima kasih banyak untuk dosen penulisan naskah non berita ibu  Siti Nur Aisyiyah atas bimbingannya. Kalau saya tidak mengambil mata kuliah ini, mungkin tidak ada kesempatan untuk mewawancarai seorang legend. Terima Kasih juga untuk bang Irwan Senjaya (Asisiten Dosen) yang seyia menemani kami semua.

Jakarta, Juni 2011

“Key to the Highway”

“Kunci untuk Highway” adalah standar blues pertama yang dicatat oleh Charlie Segar pada tahun 1940. Segar, sometimes known as the “Key Board Wizard Supreme”, was a blues pianist and occasional singer originally from Pensacola, Florida. He relocated to Chicago, where he made recordings with other blues artists, such as Bumble Bee Slim and Memphis Minnie , as well as being the featured artist.  “Key to the Highway” is one of eight known songs Segar recorded under his own name between 1934 and 1940 for the Decca and Vocalion labels. Segar, kadang-kadang dikenal sebagai “Dewan Agung Key Wizard”, adalah seorang pianis dan penyanyi blues kadang-kadang berasal dari Pensacola, Florida.Ia pindah ke Chicago, di mana dia membuat rekaman dengan artis blues lainnya, seperti Bumble Bee Slim dan Memphis Minnie , serta menjadi artis ditampilkan. “Kunci untuk Highway” adalah salah satu dari delapan lagu yang dikenal Segar dicatat namanya sendiri antara 1934 dan 1940 untuk Decca dan Vocalion label.

“Key to the Highway” is usually credited to Charles “Chas” Segar and William “Big Bill” Broonzy . As Broonzy explains: “Some of the verses he [Charlie Segar] was singing it in the South the same time as I sung it in the South. And practically all of blues is just a little change from the way that they was sung when I was a kid … You take one song and make fifty out of it … just change it a little bit.” “Kunci untuk Highway” biasanya dikreditkan ke Charles “Chas” Segar dan William “Big Bill” Broonzy . Sebagai Broonzy menjelaskan: “Beberapa ayat dia [Charlie Segar] menyanyi di Selatan waktu yang sama seperti Aku dinyanyikan di Selatan Dan hampir semua dari blues. hanya sedikit perubahan dari cara yang mereka dinyanyikan ketika aku masih kecil … Anda mengambil satu lagu dan membuat lima puluh keluar dari sana … hanya mengubahnya sedikit bit “.

Charlie Segar’s original “Key to the Highway” was done in the form of a mid-tempo twelve-bar blues . Charlie Segar asli “Kunci untuk Highway” dilakukan dalam bentuk mid-tempo -bar blues dua belas . When Jazz Gillum recorded it later that year (featuring Big Bill Broonzy on guitar), he changed the melody and the arrangement to an eight-bar blues , as it is now usually known (May 9, 1940 Bluebird B 8529). Ketika Jazz Gillum merekamnya akhir tahun itu (feat. Big Bill Broonzy pada gitar), ia mengubah melodi dan perjanjian tersebut ke bar blues delapan , seperti sekarang biasanya dikenal (9 Mei 1940 Bluebird B 8529). A year later, Broonzy recorded “Key to the Highway” utilizing Gillum’s arrangement and melody, creating the best known of the early versions of the song (May 2, 1941 OKeh 6242). Setahun kemudian, Broonzy dicatat “Kunci untuk Highway” memanfaatkan’s pengaturan Gillum dan melodi, menciptakan yang paling dikenal dari versi awal lagu (2 Mei 1941 Okeh 6242). In 2010, Broonzy’s version of “Key to the Highway” was inducted into the Blues Hall of Fame “Classics of Blues Recordings” category. Pada tahun 2010,’s versi Broonzy dari “Kunci untuk Highway” dinobatkan ke Blues Hall of Fame “Classics of Blues Rekaman” kategori.

sumber : wikipedia.ciom

“all About Buddy Guy”

Lahir dan dibesarkan di Lettsworth, Louisiana , Guy mulai belajar gitar pada tali dua busur Diddley yang dibuatnya. Later he was given a Harmony acoustic guitar , that, decades later in Guy’s lengthy career was donated to the Rock and Roll Hall of Fame . Kemudian ia diberi akustik gitar Harmony , bahwa, beberapa dekade kemudian di panjang karir Guy disumbangkan ke Rock and Roll Hall of Fame . In the early ’50s he began performing with bands in Baton Rouge . Pada awal ’50-an ia mulai tampil dengan band-band di Baton Rouge . Soon after moving to Chicago in 1957, Guy fell under the influence of Muddy Waters . Segera setelah pindah ke Chicago pada tahun 1957, Guy jatuh di bawah pengaruh Muddy Waters . In 1958, a competition with West Side guitarists Magic Sam and Otis Rush gave Guy a record contract. Pada tahun 1958, kompetisi dengan West Side gitaris Magic Sam dan Otis Rush memberikan Guy sebuah kontrak rekaman. Soon afterwards he recorded for Cobra Records . Tak lama kemudian ia tercatat untuk Cobra Records . He recorded sessions with Junior Wells for Delmark Records under the pseudonym Friendly Chap in 1965 and 1966. Ia mencatat sesi dengan Junior Wells untuk Delmark Records dengan nama samaran Friendly Chap pada tahun 1965 dan 1966.

Guy’s early career was supposedly held back by both conservative business choices made by his record company ( Chess Records ) and “the scorn, diminishments and petty subterfuge from a few jealous rival. awal karir Guy diduga ditahan oleh kedua pilihan bisnis konservatif yang dibuat oleh perusahaan rekaman nya ( Chess Records ) dan “cemoohan, diminishments dan dalih kecil dari beberapa saingan cemburu” [ rujukan? ]. Chess, Guy’s record label from 1959 to 1968, refused to record Buddy Guy’s novel style that was similar to his live shows. Leonard Chess (Chess founder and 1987 Rock and Roll Hall of Fame inductee) denounced Guy’s playing as “noise”. Catur, label rekaman Guy 1959-1968, menolak untuk merekam novel gaya Guy Buddy yang mirip dengan menunjukkan hidup nya. Leonard Catur (Chess pendiri dan 1987 Rock and Roll Hall of Fame dilantik) mengecam yang bermain Guy sebagai “kebisingan”. In the early 1960s, Chess tried recording Guy as a solo artist with R&B ballads, jazz instrumentals, soul and novelty dance tunes, but none were released as singles. Pada awal 1960-an, Catur mencoba merekam Guy sebagai artis solo dengan balada R & B, instrumental jazz, lagu jiwa dan kebaruan tari, tetapi tidak ada yang dirilis sebagai single. Guy’s only Chess album, “Left My Blues in San Francisco”, was finally issued in 1967. Catur album hanya Guy, “Waktu Blues saya di San Francisco”, akhirnya dikeluarkan pada tahun 1967. Most of the songs belong stylistically to the era’s soul boom, with orchestrations by Gene Barge and Charlie Stepney. Sebagian besar lagu-lagu milik Gaya booming era jiwa, dengan orkestrasi oleh Gene Tongkang dan Charlie Stepney. Chess used Guy mainly as a session guitarist to back Muddy Waters , Howlin’ Wolf , Little Walter , Sonny Boy Williamson , Koko Taylor and others. Catur digunakan Guy terutama sebagai gitaris sesi ke belakang Muddy Waters , Howlin ‘Wolf , Little Walter , Sonny Boy Williamson , Koko Taylor dan lainnya.

Buddy Guy appeared onstage at the March 1969 Supershow at Staines , England that also included Eric Clapton , Led Zeppelin , Jack Bruce , Stephen Stills , Buddy Miles , Glen Campbell , Roland Kirk , and Jon Hiseman The Misunderstood Roland Kirk . Image: 1969 Supershow. Buddy Guy muncul di panggung di tahun 1969 Maret Supershow di Staines , Inggris yang juga termasuk Eric Clapton , Led Zeppelin , Jack Bruce , Stephen Stills , Buddy Miles , Glen Campbell , Roland Kirk , dan Jon Hiseman The disalahpahami Roland Kirk . Image: 1969 Supershow.

By the late 1960s, Guy’s career was in decline. Pada akhir 1960-an, karier Guy berada dalam kemunduran. The heavy blues-rock scene he had helped inspire was flourishing without him. Adegan blues-rock berat ia telah membantu inspirasi sedang berkembang tanpa dia. For the next two decades, Buddy Guy had to endure the neglect many blues and rock artists faced in their careers. Selama dua dekade berikutnya, Buddy Guy harus menanggung banyak mengabaikan blues dan artis rock yang dihadapi dalam karir mereka. There are now online videos of Buddy playing with Hendrix in the late 60s. Sekarang ada video online Buddy bermain dengan Hendrix di tahun 60-an. As visionaries and pathfinders they are overlooked while their followers received the fame, recognition and fortune. Sebagai visioner dan pathfinders mereka diabaikan sementara pengikut mereka menerima ketenaran, pengakuan dan keberuntungan.

Guy’s career finally took off during the blues revival period of the late 1980s and early 1990s. karir Guy’s akhirnya melepaskan selama periode kebangkitan blues tahun 1980-an dan awal 1990-an. It was sparked by Clapton’s request that Guy be part of the ’24 Nights’ all-star blues guitar lineup at London ‘s Royal Albert Hall and Guy’s subsequent signing with Silvertone Records . Hal itu dipicu oleh permintaan Clapton’s bahwa Guy menjadi bagian dari ’24 Nights ‘bintang-blues gitar semua jajaran di London ‘s Royal Albert Hall dan selanjutnya menandatangani Guy dengan Silvertone Records .

Buddy Guy in 1993 performing Buddy Guy pada tahun 1993 melakukan

While Buddy Guy’s music is often labeled Chicago blues , his style is unique and separate. Sementara Guy musik Sobat sering dicap Chicago blues , gaya adalah unik dan terpisah. His music can vary from the most traditional, deepest blues to a creative, unpredictable and radical gumbo of the blues, avant rock, soul and free jazz that morphs at each night’s performance. Musiknya dapat bervariasi dari, blues paling tradisional terdalam ke gumbo kreatif, sukar diprediksi dan radikal dari blues, rock avant, jiwa dan jazz gratis yang morphs pada kinerja setiap malam.

As New York Times music critic Jon Pareles noted in 2004: Seperti New York Times kritikus musik Jon Pareles dicatat pada tahun 2004:

Mr. Guy, 68, mingles anarchy, virtuosity, deep blues and hammy shtick in ways that keep all eyes on him… Mr Guy, 68, berbaur anarki, keahlian, blues dalam dan shtick hammy dengan cara yang menyimpan semua mata pada dia …                               loves extremes: sudden drops from loud to soft, or a sweet, sustained guitar solo followed by a jolt of speed, or a high, imploring vocal cut off with a rasp…Whether he’s singing with gentle menace or bending new curves into a blue note, he is a master of tension and release, and his every wayward impulse was riveting.  mengasihi ekstrem: tetes tiba-tiba dari keras ke lembut, atau solo manis, gitar berkelanjutan diikuti dengan sentakan cepat, atau tinggi, memohon vokal memotong dengan parutan … Apakah dia bernyanyi dengan ancaman lembut atau tekukan baru kurva menjadi catatan biru, ia adalah master dari ketegangan dan rilis, dan setiap impuls patuh nya memukau.

In a revealing interview taped on April 14, 2000 for WRUW-FM Cleveland (a college station), Guy said “The purpose of me trying to play the kind of rocky stuff is to get airplay…I find myself kind of searching, hoping I’ll hit the right notes, say the right things, maybe they’ll put me on one of these big stations, what they call ‘classic’…if you get Eric Clapton to play a Muddy Waters song, they call it classic, and they will put it on that station, but you’ll never hear Muddy Waters.” Dalam sebuah wawancara mengungkapkan direkam pada tanggal 14 April 2000 untuk WRUW-FM Cleveland (stasiun perguruan tinggi), Guy mengatakan “Tujuan saya mencoba untuk memainkan jenis barang berbatu adalah untuk mendapatkan diputar … saya menemukan diri saya seperti pencarian, berharap aku akan memukul catatan yang tepat, mengatakan hal yang benar, mungkin mereka akan menempatkan saya di salah satu stasiun besar, apa yang mereka sebut ‘klasik’ … jika Anda mendapatkan Eric Clapton memainkan lagu Muddy Waters, yang mereka sebut itu klasik, dan mereka akan meletakkannya di stasiun itu, tapi Anda tidak akan pernah mendengar Muddy Waters

Sumber : Wikipedia.com

“SONG MANNISH BOY”

“Seperti laki-laki Boy” adalah standar blues pertama kali dicatat oleh Muddy Waters pada tahun 1955. It is a arrangement of (and an ” answer song ” to) Bo Diddley ‘s ” I’m a Man ” (which in turn was inspired by Waters’ and Willie Dixon ‘s ” Hoochie Coochie Man “).  “Mannish Boy” features a repeating stop-time figure on one chord through out the song and is credited to Waters, Mel London , and Bo Diddley . Ini adalah pengaturan (dan ” lagu jawaban “untuk) Bo Diddley ‘s ” aku Man “(yang pada gilirannya terinspirasi oleh Waters dan Willie Dixon s ‘” Jalang Coochie Man “).  ” seperti laki-laki Boy “fitur mengulangi stop-waktu angka pada satu akord sepanjang lagu dan dikreditkan ke Waters, Mel London , dan Bo Diddley .

Versi asli dari “seperti laki-laki Boy” tercatat di Chicago , Illinois pada tanggal 24 Mei 1955, dengan judul “Manish Boy”. Accompanying Muddy Waters on vocals and guitar were Jimmy Rogers on guitar, Junior Wells on harmonica , Fred Below on drums , and an un-identified female chorus. Mendampingi Muddy Waters pada vokal dan gitar yang Jimmy Rogers pada gitar, Junior Wells pada harmonika , Fred bawah pada drum , dan mengidentifikasi wanita paduan suara-un. The original version was the only recording done by Muddy Waters between January 1953 and June 1957 that did not feature Little Walter on harmonica and was one of few studio recordings with Junior Wells.  Versi asli rekaman hanya dilakukan oleh Muddy Waters antara Januari 1953 dan Juni 1957 yang tidak fitur Little Walter pada harmonika dan merupakan salah satu studio rekaman beberapa dengan Junior Wells.

Muddy Waters recorded several versions of “Mannish Boy” during his career. Muddy Waters mencatat beberapa versi “seperti laki-laki Boy” selama karirnya. In 1968, he recorded it for the Electric Mud album in Marshall Chess ‘ attempt to attract the rock market. Pada tahun 1968, ia tercatat itu untuk Lumpur Electric album di Marshall Chess upaya untuk menarik pasar batu. After he left Chess, he recorded it for the 1977 Hard Again album which was produced by Johnny Winter . Setelah ia pergi Catur, ia tercatat untuk tahun 1977 Lagi Hard album yang diproduksi oleh Johnny Winter . The song also was included on the live album Muddy “Mississippi” Waters – Live (1979). Lagu ini juga disertakan pada album live Muddy “Mississippi” Waters – Live (1979).

A version of the song recorded by Erykah Badu featured in an H&M TV advert in spring 2011. Sebuah versi dari lagu yang direkam oleh Erykah Badu ditampilkan di salah satu H & M iklan TV di musim semi 2011

Sumber : Wikipedia.com

Rollin Stone

“Rollin ‘Stone” adalah lagu blues direkam oleh Muddy Waters pada tahun 1950. It is Waters’ interpretation of “Catfish Blues”, a traditional blues that dates back to 1920s Mississippi. “Rollin’ Stone” has been recorded by a variety of artists and has been acknowledged by the Grammy Hall of Fame and Rolling Stone magazine. Hal ini. Waters ‘interpretasi dari “Lele Blues”, tradisional sebuah blues yang tanggal kembali ke 1920 Mississippi  “Rollin ‘Stone” telah direkam oleh berbagai artis dan telah diakui oleh Grammy Hall of Fame dan Rolling Stone majalah

“Rollin ‘Stone” telah diidentifikasi (bersama dengan “Walkin’ Blues”, single B-side) sebagai salah satu lagu pertama yang Muddy Waters belajar bermain dan favorit dini.Disebut “jeli sebuah, kecil- sepotong warni drone “,”Rollin ‘Stone” merupakan mid-ke-tempo lambat dinotasikan blues di 4 / 4 kali dalam kunci E. Meskipun bagian instrumental menggunakan akord IV dan V, vokal bagian tetap pada akord I, memberikan sebuah lagu kualitas modal sering ditemukan dalam lagu blues Delta. In addition to the traditional catfish verses, Waters added: Selain ayat-ayat lele tradisional, Waters menambahkan:

Well my mother told my father just before I was born Nah ibu saya memberitahu ayah saya sebelum saya lahir

‘I got a boy child comin’, gonna be, gonna be a rollin’ stone ‘Saya punya anak laki-laki comin’, akan menjadi, akan menjadi batu bergelut

Sho’ enough he’s a rollin’ stone … Sho ‘cukup dia seorang bergelut batu …

Unlike most of his early recordings which have bass or other instrumental accompaniment, “Rollin’ Stone” is a solo performance by Muddy Waters on vocal and electric guitar. Tidak seperti kebanyakan rekaman awal yang telah bass atau iringan instrumental lainnya, adalah “Rollin ‘Stone” penampilan solo oleh Muddy Waters pada gitar vokal dan listrik. It has “much empty space … imbued with the power of a pause, of letting a note hang in the air, the anticipation of the next one”.  Memiliki “banyak ruang kosong … dijiwai dengan kekuatan jeda, membiarkan catatan menggantung di udara, antisipasi yang berikutnya”.

“Rollin’ Stone” was the first Muddy Waters record released on Chess Records and the second overall for the label (previous releases were on Aristocrat Records ). “Rollin ‘Stone” adalah Muddy Waters record pertama dirilis pada Chess Records dan keseluruhan kedua untuk label (rilis sebelumnya berada di Aristokrat Records ).

Although “Rollin’ Stone” sold enough for Muddy Waters to quit his day job,it did not appear in the record charts. Meskipun “Rollin ‘Stone” cukup dijual Muddy Waters untuk berhenti dari pekerjaan-Nya, itu tidak muncul dalam grafik catatan. In 1951, Waters used the guitar figure from “Rollin’ Stone” for “Still a Fool” (Chess 1480). Pada tahun 1951, Waters menggunakan angka gitar dari “Rollin ‘Stone” untuk “Masih Fool” (Catur 1480). The song was more successful, reaching  in the Billboard R&B chart .  Rather than a solo piece, Little Walter (second guitar) and Leonard Chess (bass drum) accompanied Waters (vocal and guitar). Lagu ini lebih berhasil, mencapai  di Billboard R & B grafik . Daripada sepotong solo, Little Walter (gitar kedua) dan Leonard Catur bass drum) disertai Waters ((vokal dan gitar). Subsequent versions of “Rollin’ Stone” or “Catfish Blues” often use some lyrics from “Still a Fool” (sometimes called “Two Trains Running” after the opening verse). versi selanjutnya dari “Stone Rollin ‘” atau “Lele Blues” sering menggunakan beberapa lirik dari “Masih Fool” (kadang-kadang disebut “Dua Kereta Menjalankan” setelah ayat pembukaan).

Sumber : Wikipedia.com

“Song Black Dog”

Black Dog” adalah lagu dengan bahasa Inggris band rock Led Zeppelin , yang tampil sebagai trek-off memimpin mereka album keempat , dirilis pada tahun 1971. It was also released as a single in the United States and Australia with ” Misty Mountain Hop ” on the B-side, and reached  on Billboard and  in Australia. Ini juga dirilis sebagai single di Amerika Serikat dan Australia dengan ” Misty Mountain Hop “di sisi-B, dan mencapai  di Billboard dan di Australia.

In 2004 the song was ranked  on Rolling Stone ‘s list of the 500 Greatest Songs of All Time . Pada tahun 2004 lagu itu peringkat 4 pada Rolling Stone daftar ‘dari 500 Songs Terbesar Sepanjang Masa . Music sociologist Deena Weinstein argues, “Black Dog” is “one of the most instantly recognisable Led Zeppelin tracks”. Musik sosiolog Deena Weinstein berpendapat, “Black Dog” adalah “salah satu yang paling langsung dikenali Led Zeppelin trek”

Sumber : Situs Led Zeppelin